Categories: Feature

[ID] Escalator to Extinction: Terjepit di Gunung, Menuju Jurang Kepunahan

Bayangkan Anda berada di sebuah eskalator panjang yang berjalan menanjak perlahan di sebuah gedung yang terbakar. Di belakang Anda, api berkobar membara, memaksa Anda untuk terus naik mengikuti jalannya eskalator. Namun di depan, Anda juga melihat bahwa lantai selanjutnya telah runtuh, sehingga Anda akan terjatuh ketika sampai di ujungnya. Anda terjebak di eskalator tersebut, dipaksa untuk terus naik oleh panas yang membara, berjalan perlahan menuju jurang yang sama gelapnya.

Meskipun paragraf di atas terdengar seperti kisah fiksi dari novel horor, kenyataannya hal ini benar-benar dirasakan oleh berbagai spesies penghuni ekosistem pegunungan di wilayah tropis. Perubahan iklim di bumi memaksa mereka untuk terus mendaki untuk tetap hidup, seperti sebuah eskalator yang memaksa mereka untuk berpindah ke wilayah yang lebih tinggi. Pada akhirnya mereka akan terjepit hingga ke titik tertinggi, tanpa ada lagi tempat lagi berlari, dan terdorong ke “jurang” kepunahan tanpa bisa kembali lagi.

Pegunungan Indonesia, Surga Endemisme Dunia

Landscape mountain
Ekosistem pegunungan, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Ekosistem pegunungan menjadi salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Layaknya pulau-pulau terpencil, masing-masing wilayah gunung atau pegunungan memiliki ekosistem yang unik dan saling terpisah satu sama lain, mendorong terjadinya proses spesiasi—pembentukan spesies baru melalui isolasi genetik dan proses adaptasi berbagai organisme yang hidup di atasnya. Proses ini pun memunculkan berbagai taksa endemis, yakni organisme yang hanya bisa ditemukan di wilayah tersebut.

Sebagai negara di tengah-tengah pertumbukan lempeng bumi, Indonesia pun menjadi teater utama dari proses spesiasi ini. Indonesia diberkahi oleh gunung-gunung berapi menjulang atau rangkaian pegunungan yang saling terisolasi, masing-masing menyimpan ekosistem unik yang mendukung terbentuknya taksa-taksa endemis di kawasan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan berbagai jenis endemis sebagai bagian dari keanekaraman hayati (KEHATI) di kawasan pegunungan di Indonesia, seperti dua jenis baru yang dideskripsikan dari rangkaian Pegunungan Meratus beberapa waktu yang lalu: sikatan kadayang (Cyornis kadayangensis) dan kacamata meratus (Zosterops meratusensis).

Sayangnya, spesies spesialis pegunungan di Indonesia memiliki distribusi yang terbatas dan populasi yang terfragmentasi. Hal ini menyebabkan spesies-spesies tersebut terhadap gangguan dari manusia, baik dalam bentuk perusakan habitat dan perburuan. Hal inilah yang membuat  cukup banyak spesies spesialis pegunungan di Indonesia kini berada di tepian jurang kepunahan, seperti burung ekek-geling jawa (Cissa thalassina) yang berstatus Kritis (CR) dalam Daftar Merah IUCN, dengan populasi di alam diperkirakan kurang dari 250 ekor.

Eskalator Kepunahan dan Dampaknya bagi Indonesia

Seakan belum cukup, ancaman baru kini muncul bagi spesies-spesies penghuni hutan pegunungan di seluruh dunia: perubahan iklim. Perubahan iklim pada aslinya merupakan proses alami yang terjadi di bumi, yang terjadi akibat perubahan komposisi di atmosfer. Salah satu proses perubahan iklim yang paling dikenal adalah pemanasan global (global warming), yang terjadi akibat emisi gas seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) yang memerangkap sinar matahari sehingga tidak dapat dipantulkan kembali ke luar angkasa. Proses ini menyebabkan terjadinya peningkatan suhu di permukaan bumi, yang mempengaruhi berbagai proses ekologi di bumi serta memaksa berbagai spesies untuk beradaptasi, berpindah, atau punah.

Meskipun terjadi secara alami, berbagai aktivitas manusia telah terbukti dapat mempercepat proses perubahan iklim tersebut. Pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak dan batubara menyebabkan pelepasan karbondioksida yang jauh lebih cepat ke atmosfer, sementara pertanian intensif juga menyebabkan efek yang sama pada gas metana. Hal ini diperparah dengan kerusakan hutan dan berbagai ekosistem lain yang menjadi lumbung karbon, sehingga mengganggu proses penyerapan gas-gas ini dari atmosfer. Pada akhirnya, berbagai faktor antropogenik tersebut mempercepat pemanasan global secara drastis—jauh lebih cepat daripada kemampuan berbagai spesies di bumi untuk beradaptasi, meninggalkan opsi berpindah atau punah.

Di wilayah tropis, pemanasan global akibat faktor antropogenik menyebabkan perubahan suhu, kelembapan dan faktor-faktor lingkungan lain, sehingga memaksa berbagai spesies hewan dan tumbuhan bergeser ke wilayah yang lebih tinggi untuk tetap hidup di habitat yang sesuai. Bagi spesies-spesies generalis atau spesialis dataran rendah, pergeseran ini mungkin bukan menjadi hal yang signifikan untuk saat ini. Namun bagi berbagai spesies spesialis pegunungan, khususnya spesialis zona alpin di puncak-puncak gunung yang tidak bisa berpindah ke wilayah lebih tinggi, pergeseran ini dapat menyebabkan penyusutan habitat yang sesuai. Jika pemanasan global terus berlanjut, berbagai hewan dan tumbuhan spesialis ini pun kehilangan habitat yang sesuai, hingga akhirnya terjadi kepunahan jika tidak dapat beradpatasi dengan habitat baru yang lebih panas.

Jika pemanasan global terus berlanjut, berbagai hewan dan tumbuhan spesialis ini pun kehilangan habitat yang sesuai, hingga akhirnya terjadi kepunahan jika tidak dapat beradpatasi dengan habitat baru yang lebih panas.

Fenomena inilah yang disebut oleh para ahli sebagai Escalator to Extinction alias eskalator kepunahan, sebuah istilah yang pertama kali dicetuskan dalam sebuah publikasi di tahun 2018 yang mengibaratkan pemanasan global sebagai eskalator yang terus menggeser spesies-spesies di pegunungan menuju kepunahan. Dalam publikasi tersebut, sekelompok peneliti melakukan survei burung di wilayah Pegunungan Cerro de Pantiacolla, Peru pada tahun 1985 dan 2017 dan menemukan perubahan temperatur 0,4o celcius diantara rentang waktu tersebut, tanpa adanya perubahan habitat yang signifikan. Meskipun perubahan temperatur ini terlihat minim, nyatanya para peneliti mencatat adanya pergeseran sebaran berbagai jenis burung di wilayah tersebut ke wilayah yang lebih tinggi, dengan nilai rata-rata 68 m. Lebih jauh lagi, para peneliti tersebut juga menemukan berkurangnya kemelimpahan burung-burung yang hidup di atas 1.200 mdpl, serta hilangnya populasi lima spesies burung yang sebelumnya tercatat di tahun 1985.

Di Indonesia sendiri, beberapa penelitian juga menunjukkan perubahan distribusi spesies pegunungan, baik satwa dan tumbuhan. Sebuah penelitian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang dipublikasikan di tahun 2017 melaporkan pergeseran distribusi pada katak-terbang jawa (Rhacophorus reinwardtii) berdasarkan data antara tahun 1961-1964, yang kemungkinan besar diakibatkan oleh perubahan iklim. Dalam penelitian lain, para ilmuwan memperkirakan pergeseran distribusi tumbuhan ceker ayam (Selaginella spp) hingga 51 meter ke wilayah yang lebih tinggi di tahun 2030 dan 180 m di tahun 2080.

Racophorus reindwardtii
Katak-terbang jawa (Rhacophorus reinwardtii), salah satu amfibi yang dilaporkan mengalami pergeseran distribusi elevasi akibat perubahan iklim di Indonesia.

Lantas, apa dampak dari kepunahan spesies-spesies ini bagi manusia—khususnya warga Indonesia? Dari segi ekologis, kepunahan spesies-spesies pegunungan dapat mempengaruhi jasa lingkungan yang diberikan oleh ekosistem pegunungan, seperti pengelolaan siklus air dan pariwisata. Kepunahan berbagai spesies penyusun ekosistem ini akan berujung pada ketidakseimbangan ekosistem dan berkurangnya kestabilan ekosistem, yang berujung pada terganggunya jasa-jasa lingkungan yang disediakan oleh ekosistem hutan tersebut. Hal ini akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pegunungan tersebut, lalu merambat ke masyarakat di wilayah lain.

Terganggunya jasa lingkungan ekosistem pegunungan, seperti fungsi penyimpanan karbon, dapat mempercepat perubahan iklim. Akibatnya, laju kepunahan spesies meningkat, keseimbangan ekosistem terganggu, dan kemampuan ekosistem untuk meregulasi karbon semakin melemah. Jika tidak ada upaya intervensi, siklus ini akan terus berlanjut dan semakin memburuk, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan oleh keanekaragaman hayati, tetapi juga manusia sebagai bagian dari ekosistem bumi.

Menyelamatkan Spesies Pegunungan dari Eskalator Kepunahan

Javan Trogon
Luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), salah satu burung spesialis pegunungan endemis Pulau Jawa.

Meskipun ‘eksalator’ perubahan iklim merupakan proses alam yang tidak dapat dihentikan, sebagai manusia kita dapat mengurangi lajunya dan memberi kesempatan untuk spesies-spesies pegunungan untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi berbagai aktivitas manusia yang mempercepat laju pemanasan global, seperti melalui transisi ke energi terbarukan dan peningkatan efisiensi energi, serta perlindungan dan perbaikan ekosistem penyerap gas rumah kaca. Selain itu, perluasan kawasan lindung di pegunungan (seperti melalui Taman Kehati) juga sangat krusial untuk memberikan ruang yang cukup bagi spesies yang terdesak oleh perubahan suhu.

Dukungan bagi spesies-spesies spesialis pegunungan juga dapat diberikan dalam bentuk pengurangan ancaman tambahan, seperti eksploitasi berlebihan dan mitigasi kerusakan habitat. Bagi spesies yang sudah terlanjur mengalami keterancaman, solusi eks situ juga diperlukan melalui conservation breeding center, kebun raya, atau taman kehati sebagai jaring pengaman dari kepunahan. Terakhir, kesadaran publik juga perlu ditingkatkan melalui edukasi yang menggarisbawahi pentingnya keanekaragaman hayati pegunungan, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui konservasi berbasis komunitas yang tidak hanya efektif dalam melindungi habitat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung.

Dengan bertindak segera, kita tidak hanya memberikan kesempatan bagi spesies-spesies unik ini untuk bertahan hidup, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan manusia. Hal ini bukan hanya soal mampu atau tidaknya kita bertindak, tetapi sejauh mana kita bersedia untuk menjaga masa depan keanekaragaman hayati di tengah dunia yang terus berubah.

Referensi

Anderson, J. T., Panetta, A. M., & Mitchell-Olds, T. (2012). Evolutionary and Ecological Responses to Anthropogenic Climate Change. Plant Physiology, 160(4), 1728–1740. https://doi.org/10.1104/pp.112.206219

BirdLife International, B. I. (BirdLife. (2020). IUCN Red List of Threatened Species: Cissa thalassina. IUCN Red List of Threatened Species. https://www.iucnredlist.org/en

Freeman, B. G., Scholer, M. N., Ruiz-Gutierrez, V., & Fitzpatrick, J. W. (2018). Climate change causes upslope shifts and mountaintop extirpations in a tropical bird community. Proceedings of the National Academy of Sciences, 115(47), 11982–11987. https://doi.org/10.1073/pnas.1804224115

Höök, M., & Tang, X. (2013). Depletion of fossil fuels and anthropogenic climate change—A review. Energy Policy, 52, 797–809. https://doi.org/10.1016/j.enpol.2012.10.046

Karl, T. R., & Trenberth, K. E. (2003). Modern Global Climate Change. Science, 302(5651), 1719–1723. https://doi.org/10.1126/science.1090228

KEHATI. (2020, September 1). Taman Keanekaragaman Hayati. Apa Itu? – KEHATI. Website KEHATI. https://kehati.or.id/taman-keanekaragaman-hayati-apa-itu/

KEHATI. (2024, December 10). Mantan Perambah yang Kini Melestarikan Hutan—KEHATI. Website KEHATI. https://kehati.or.id/kelompok-pelestari-hutan-pesanguan-mantan-perambah-yang-kini-melestarikan-hutan/

Kusrini, M. D., Lubis, M. I., Endarwin, W., Yazid, M., Darmawan, B., Ul-Hasanah, A. U., Sholihat, N., Tajalli, A., Lestari, V., Utama, H., Nasir, D. M., Ardiansyah, D., & Rachmadi, R. (2017). Elevation range shift after 40   years: The amphibians of Mount Gede Pangrango National Park revisited. Biological Conservation, 206, 75–84. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2016.12.018

Pielke, R. A. (2004). What is Climate Change? Energy & Environment, 15(3), 515–520. https://doi.org/10.1260/0958305041494576

Setyawan, A. D., Supriatna, J., Nisyawati, Nursamsi, I., Sutarno, S., Sugiyarto, S., Sunarto, S., Pradan, P., Budiharta, S., Pitoyo, A., Suhardono, S., Setyono, P., & Indrawan, M. (2020). Anticipated climate changes reveal shifting in habitat suitability of high-altitude selaginellas in Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 21(11), Article 11. https://doi.org/10.13057/biodiv/d211157

Taufiqurrahman, I., Akbar, P. G., Purwanto, A. A., Untung, M., Assidiqi, Z., Iqbal, M., Wibowo, W. K., Tirtaningtyas, F. N., & Triana, D. A. (2022). Panduan Lapangan Burung-burung di Indonesia Seri 1: Sunda Besar. Birdpacker Indonesia-Interlude.

Urban, M. C. (2018). Escalator to extinction. Proceedings of the National Academy of Sciences, 115(47), 11871–11873. https://doi.org/10.1073/pnas.1817416115

2 comments

rangga yudha nagara says:

izin mampir… artikel2 yg menarik mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *